IKATAN KELUARGA ALUMNI FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

RENUNGAN


Beberapa hari lagi, Ramadhan akan kembali mengetuk pintu waktu kita.

Ia selalu datang tanpa suara yang keras, namun kehadirannya mampu mengguncang batin. Ada getar halus yang mulai terasa—antara rindu dan cemas. Rindu karena ia adalah bulan penuh rahmat. Cemas karena kita tak pernah tahu, apakah ini Ramadhan terakhir yang Allah izinkan untuk kita temui.

Ramadhan bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Ia adalah undangan. Undangan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia. Undangan untuk menengok ke dalam diri—menilai ulang niat, memperbaiki arah, dan membersihkan hati yang mungkin mulai berdebu oleh ambisi, amarah, dan kelalaian.

Beberapa hari ini adalah masa persiapan yang sunyi. Persiapan bukan hanya stok makanan atau jadwal sahur, tetapi persiapan jiwa. Sudahkah kita berdamai dengan kesalahan masa lalu? Sudahkah kita memaafkan, atau setidaknya berniat untuk memaafkan? Sudahkah kita berniat sungguh-sungguh untuk berubah, bukan hanya menjalani rutinitas puasa seperti tahun-tahun sebelumnya?

Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi pada seberapa mampu kita menahan diri. Lapar dan dahaga hanyalah pintu masuk. Di baliknya ada pelajaran tentang pengendalian, keikhlasan, dan ketundukan total kepada Sang Pencipta.

Dan mungkin yang paling dalam, Ramadhan adalah tentang kembali. Kembali kepada doa-doa yang dulu sering kita panjatkan. Kembali kepada sujud yang mungkin mulai jarang kita nikmati. Kembali kepada hati yang lembut, yang mudah tersentuh oleh ayat-ayat-Nya.

Jika beberapa hari lagi Ramadhan benar-benar datang, semoga ia tidak sekadar melewati kita. Semoga ia menetap di hati, membentuk ulang cara kita memandang hidup, dan meninggalkan cahaya yang tetap menyala bahkan setelah bulan itu pergi.

Karena Ramadhan yang sejati bukan hanya yang hadir di kalender—tetapi yang tinggal di dalam jiwa. 🌙


Anonim

Comments powered by CComment